Anak Seorang Petani, Ini Fakta Menarik Crazy Rich Asian Pendiri BreadTalk


Spread the love

Anak Seorang Petani, Ini Fakta Menarik Crazy Rich Asian Pendiri BreadTalk

Anak Seorang Petani, Ini Fakta Menarik Crazy Rich Asian Pendiri BreadTalk
By Aulia Akbar

Pendiri dan pengusaha roti BreadTalk, George Quek.

Kamu suka Roti BreadTalk? Pendiri dari roti ini punya ambisi “menguasai dunia” dengan membangun 2 ribu gerai baru di 2020.

Roti ini sejatinya adalah waralaba asal Singapura yang sangat laris di Indonesia. Pada tahun 2004, BreadTalk (Indonesia) berhasil meraih Best Seller Product versi majalah Marketing untuk productnya yaitu C’s Flosss dan Fire Flosss yang per harinya terjual sekitar 20.000 buah.

Di Singapura, mereka pun menyabet banyak penghargaan. Beberapa diantaranya adalah, Singapore Promising Brand Award, Most Popular Brand 2002, Singapore Promising Brand Award, dan Most Distinctive Brand 2003-2004 versi Association of Small and Medium Enterprise (ASME).

Saat ini, roti Breadtalk memang memiliki 1.000 gerai. Tapi siapa sangka, menurut informasi dari Singapore Infopedia, pendirinya yaitu George Quek ternyata adalah seorang yang lahir di keluarga sederhana saja. Penasaran dengan fakta-faktanya? Yuk simak ulasannya di bawah sini.

1. Putra seorang petani yang akhirnya melaut

Siapa sangka, pendiri roti Breadtalk ternyata adalah putra dari seorang petani sayur mayur yang akhirnya beralih profesi jadi nelayan. Sementara itu, ibunya adalah seorang ibu rumah tangga.

Bisa dibilang, George kecil adalah seorang pemalu dan gak pernah merasa nyaman dengan budaya di sekolahnya yang terlalu kaku.

Meski demikian, George punya hobi menggambar. Dia juga memiliki bakat di bidang seni yang sanggup menjadikannya sebagai juara di berbagai kompetisi gambar setempat.

2. Belajar seni, jadi teknisi listrik, jadi tentara, hingga jualan manisan

Setelah lulus dari Sekolah Xinmin, George Quek melanjutkan studinya di bidang seni. Dia pun terpaksa kerja jadi teknisi listrik untuk membiayai sekolah.

Saat usianya menginjak 20 tahun, dia pun bergabung dalam dinas militer. Selama lima tahun, pangkatnya naik jadi sersan mayor.

Usai dinas militer itu berakhir, dia pergi ke Hong Kong dan bekerja di Parklane Shopping Mall. Di sana dia akhirnya menjual jajanan manisan kumis naga yang sangat ngehits di Hong Kong. Di Hong Kong pulalah dia bertemu dengan Katherine Lee Lih Leng yang akhirnya menjadi istrinya.

George pun lantas pergi ke Taiwan untuk melanjutkan studi. Akan tetapi, manisan kumis naga itu yang membuatnya berubah pikiran. Dia pun meminjam dana dari ayahnya untuk membuka kios di sana.

3. Bisnis moncer dan mengembangkan usaha

Sang pendiri Breadtalk ini pun merasakan kesuksesan dari bisnis barunya di Hong Kong. Manisan itu laris manis hingga dalam sebulan dia berhasil meraup untung ratusan juta Rupiah!

George Quek pun memutuskan untuk membuka restoran Bak Chor Mee (Mie dengan potongan daging babi ala Singapura). Kemudian, dia pulang kampung untuk mempelajari resep Bak Chor Mee, sebelum membuka usaha barunya di Taiwan.

Kabarnya, dia belajar resep Bak Chor Mee dari pedagang kaki lima di negaranya lho.

4. Sempat gagal di Taiwan

Sekembalinya ke Taipei, dia berambisi membangun sebuah gerai makanan bernama Singa. Dia memulainya dengan modal US$ 100 ribu, dan menu utamanya Bak Chor Mee dan bakmie ikan.

Akan tetapi, bisnis ini gak berhasil. Dia terpaksa menutup gerai makanannya tiga bulan kemudian. Uang tabungannya pun dikabarkan ludes!

Meski demikian, George gak lantas patah arang. Dia pun kembali mencoba untuk menata ulang usahanya enam bulan ke depan.

Dengan merekrut chef yang lebih handal, dia meluncurkan menu sate, nasi ayam Hainan, dan mie udang. Singa pun jadi sukses, dan tepat pada 1992, George Quek meninggalkan Taiwan dan menjual Singa yang sudah memiliki 21 cabang.

5. Pulang kampung dan menjadi Raja Foodcourt

Sebelas tahun berada di Taiwan, George Quek pun pindah ke Shanghai dan sukses membangun gerai es krim selama sembilan bulan. Apakah saat itu dia langsung mendirikan roti Breadtalk? Ternyata enggak.

Di tahun 1993, dia justru rindu Tanah Air dan pulang kampung. Tapi di Singapura, George yang sudah jadi tajir ini mendirikan Food Junction, sebuah waralaba food court yang dibuka di pusat perbelanjaan.

Dalam waktu delapan tahun, Food Junction berkembang pesat hingga mencapai 14 gerai di Singapura. Mereka juga sukses buka cabang di Johor Baru. George pun menjadi pemegang saham mayoritas di Megabites Foodcourt di Beijing dan Shanghai. Dari situlah dia mendapat julukan Raja Foodcourt.

6. Mendirikan Roti Breadtalk tahun 2000

Seiring dengan berjalannya waktu, George mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Managing Director Food Junction. Tepat pada Juli 2000, dia meluncurkan brand barunya, apalagi kalau bukan BreadTalk.

Ide mendirikan BreadTalk muncul karena inspirasi dari toko-toko roti Jepang dan Taiwan. BreadTalk pun menjadi salah satu produk yang laris di pasaran. Dalam kurun waktu singkat, yaitu pada 2003, mereka melantai di bursa saham Singapura.

Di bawah kepemimpinannya, BreadTalk Group berhasil berkembang pesat hingga melahirkan beberapa anak perusahaan lainnya. Mereka adalah, Toast Box, Bread Society, The Icing Room, Din Tai Fung, serta Food Republic.

Sang pendiri roti BreadTalk ini pun makin bersinar sebagai salah seorang crazy rich Asian.

Itulah kisah singkat dari George Quek, sang raja bisnis makanan di Asia. Intinya, kisah beliau memang mengingatkan kita bahwasannya, seorang pebisnis ulung tetap pernah mengalami kegagalan.

Akan tetapi, kegagalan tentunya bakal memberikan kita pelajaran berharga untuk menggapai kesuksesan di masa depan.

Patut diingat juga lho, sebagai seorang crazy rich Asian, George dulunya bukanlah seorang yang lahir kaya. Dia adalah putra seorang petani, tapi bisa sukses berkat kerja keras dan pantang menyerah. (Editor: Ruben Setiawan)


Spread the love

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 + five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.