Berbuat Kebaikan Ada Waktunya


Spread the love

Berbuat Kebaikan Ada Waktunya

Seorang ibu berjalan di areal kompleks pertokoan dan sedang berlangsung kegiatan bazaar untuk pengumpulan dana bagi penderita kanker. Puluhan gerai makanan dan minuman tersusun rapi di kanan kiri jalan setapak.

Ibu tersebut tidak sendirian. Beliau menggendong seorang balita di balik punggungnya. Seorang gadis kecil berpakaian kumal berjalan di sampingnya sambil menggenggam ujung baju bawah sang ibu.

Saat itu saya sedang berteduh di bawah pohon rindang menghindari terik matahari yang menyengat kulit. Mataku tidak lepas dari ibu tersebut. Mengamati gerak gerik wanita tua beruban sedikit yang terlihat berjalan lemah.

Sang ibu singgah ke gerai pertama, hanya sebentar, mengucapkan beberapa kata. Berjalan meninggalkan gerai pertama menuju gerai kedua. Di sini juga hanya sebentar saja. Dilepas dengan muka masam oleh pemilik gerai.

Saya penasaran dengan apa yang dikatakan sang ibu. Pandanganku membawa langkahku berjalan mendekati. Sang ibu sampai di gerai ketiga, sementara saya pura-pura berhenti di gerai kedua, sambil melebarkan telinga agar dapat mendengar percakapan di gerai sebelah.

Sang Ibu : “Mbak, bolehkah saya meminta sebungkus makanan untuk kami makan bertiga…?”

Pemilik gerai : “Maaf, silakan cari gerai lain saja. Saya takut nanti dagangan ini kekurangan. Tadi buatnya gak banyak…”

Sang Ibu : “Terima kasih bu… Semoga dagangan mbak laku semua…”

Sang ibu berjalan gontai ke gerai keempat, langkahnya semakin berat setelah balita yang digendongnya terus menerus bergerak, mungkin kepanasan dan kelaparan.

Seorang pegawai wanita menyapa ramah : “Ibu mau beli apa?”

Sang Ibu : “Saya kelaparan tapi tidak punya uang… Bolehkah saya meminta sebungkus nasi…? Balasannya nanti saya membantu membersihkan meja atau mencuri piring kotor…”

Pegawai wanita itu tampak terkesima. Terlihat raut wajah tidak tega : “Sebentar bu… saya ambil jatah makan saya buat ibu…”

Saat itu saya sudah berada di samping sang Ibu, lalu berkata : “Gak usah mbak… Tolong bungkuskan tiga bungkus nasi untuk ibu ini…”

Saya menyodorkan uang seratus ribu kepada pegawai gerai sambil melihat kondisi sang ibu. Beliau mulai menurunkan anak yang digendongnya. Membasuh peluhnya dengan ujung selendang gendongan.

Pegawai : “Maaf Pak… Untuk membeli makanan di sini harus menggunakan kupon bazaar…”

Saya : “Oh gitu yah… Dimana saya dapat membeli kupon bazaar…”

Pegawai : “Di sekretariat panitia… di gedung sebelah… agak jauh dari sini…”

Saya : “Oke gak papa… saya akan kembali…”

Setengah jam kemudian saya kembali dan mendapati sang Ibu beserta dua orang anaknya sedang melahap tiga bungkus nasi lengkap dengan minuman dingin. Saya merasa agak terkejut.

Dalam hati saya bergumam : “Apa mungkin pegawai wanita itu percaya kepada saya, orang yang belum dikenalnya? Bersedia memberikan makanan dan minuman untuk sang Ibu sedangkan saya belum membayar…”

Saya berjalan menuju ke arah pegawai wanita yang sedang membungkus makanan dan bertanya : “Mbak… saya ingin membayar semua makanan dan minuman yang disantap ibu dan anak-anaknya… Saya sudah menukar kupon bazaar…”

Pegawai wanita itu tersenyum lalu berkata : “Maaf Pak… Sesaat setelah bapak pergi dari sini, seorang kakek yang berjalan menggunakan tongkat langsung membeli tiga bungkus nasi dan minuman untuk Ibu itu. Saya berkata kepada sang kakek, sudah ada yang membayar. Tapi sang kakek bersikeras untuk membayar….”

Saya terdiam….

Pegawai itu melanjutkan : “Sang kakek berujar bahwa dirinya sudah tua, tidak lama lagi hidupnya, mengapa tidak diberi kesempatan untuk berbuat kebaikan. Saya tidak mampu lagi menolaknya. Maafkan saya Pak…”

Kali ini saya mengangguk dan menebar senyuman : “Tidak apa-apa Mbak… Mungkin saat ini bukan waktuku. Ke depannya saya masih memiliki banyak waktu untuk berbuat kebaikan…”

Sobatku yang budiman…

Seorang ibu yang jujur dan memerlukan bantuan, seorang pegawai wanita yang baik hati dan seorang kakek yang dermawan… Ketiganya bersatu dalam menciptakan sebuah kebaikan.

Jika tidak ada yang ditolong, mana ada kebaikan yang tercipta. Jika tidak ada yang menolong juga tidak akan ada kebaikan. Kadang kala seorang perantara diperlukan untuk mewujudkan kebaikan. Semua saling mendukung.

Berbuat baiklah di saat kita memiliki kesempatan.
Jangan menunggu kaya baru bergegas berbuat baik.
Jangan menunggu sehat baru bergerak melakukan kebaikan.
Jangan menunggu punya jabatan baru menciptakan kebaikan.

Perjalanan kehidupan ini singkat pakailah selalu utk memberi kebaikan pada setiap saat sebab besok belum tentu waktu itu ada….


Spread the love

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eight − eight =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.