Mari Kita Belajar Mengenai Kisah Sukses Kapal Api


Spread the love

Mari Kita Belajar Mengenai Kisah Sukses Kapal Api

Mari kita sama-sama belajar mengenai kisah sukses Kapal Api.

Ada yang mau belajar dan menyimak bareng ?

Teman-teman, tahukah kamu bahwa yang membuat Soedomo Margonoto kaya adalah ide mengemas kopi bubuk menjadi kemasan mungil seperti ukuran sabun?

Jadi waktu itu tahun 1975, Dia 2 dari 7 bersaudara melihat kemasan sabun mandi Lux, yang ukurannya segenggam. Lalu dia berpikiran “Kok enak ya dijual satu persatu”

Awal mulanya juga coba coba mengenai ukuran gram nya, yaitu 100 gram, 250 gram dan 500 gram, serta sachet (yang sekarang).

Jadi Domo Kecil sadar bahwa Kapal Api kan sudah lama dari tahun 1927 dan diterima orang-orang.

Lalu dia melihat ayahnya menjual kopi seberat 50 kg dengan kemasan kaleng atau karung sak semen. Dari situlah dia berpikir, orang bisa repot ni kalau bikin kopi karena kemasan seperti ini.

Lalu dibuatlah kemasan sachet, padahal usia kapal api masih lebih muda dibandingkan pesaingnya, yaitu Kopi Kedung Laju, Kopi Cap Gadis, Kopi Supiah, Kopi Wanita Utama, Kopi Gelatik dan Kopi Cap Oto Terbang.

Teman-teman, ternyata Pak Domo ini walaupun sukses, tetap memakai kemeja harga 100 ribuan lho, dan Pak Domo karena inovasi kemasannya membawa ia memenangi pasar kopi nasional sebesar 65% lho.

Pada saat itu di Surabaya, ayah Domo yang bernama Go Soe Loet sering keliling toko menjajakan kopinya, karena jaman itu adalah minuman Waji, dan uniknya setiap daerah juga sudah punya jawaranya. Ayah Domo berasal dari pulau Fujian masih orang China Daratan.

Dulu Kopinya diberi merek Hap Hootjan yang bahasa Indonesia nya adalah Kapal Api.

Kenapa namanya itu ?

Jadi nama tersebut diilhami oleh sebuah pemahaman bahwa teknologi kapal bertenaga ketel uap yang membawanya ke Jawa. Meski bukan kopi kelas premium, mencatat nama kapal api yang waktu itu adalah teknologi terbaru bisa menutupi kekurangannya.

Sambil menulis ini saya jadi ingat, bahwa nama itu penting banget.

Contohnya Luwak White Coffee (Padahal Luwak nya adalah merek) tetapi kedongkrak karena Luwak membawa nama ekslusif.

Dari dulu Domo sudah rajin jualan kopi pakai sepeda ontel, berkeliling ke pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan keluar masuk kampung. Dia seneng berbisnis dan barulah fokus 1975 berambisi untuk membangun pabrk kopi yang lebih moderm.

Pabrik tersebut serba canggih, mulai dari mesin penggorengan, kemasan eceran, promosi yang agresif dan perbaikan pabrik terus menerus.

Pabrik dan gudang pertamanya di Jalan Panggung IX Surabaya. Dia beli mesin goreng lokal harganya Rp. 150.000,- dan mesin giling Rp 10.000,- Tentu saja itu sudah mahal banget ditahun 1975. Kalalu ga salah UMR PNS tahun 1975 saat itu Rp. 10.000,-.

Memang Domo ini selalu belajar dan praktek, makanya dia membandingkan teknologi nya dengan kopi kemasan asal Eropa, yang dipelajari ternyata kok aroma di luar negeri lebih bagus, ternyata dia tahu dari Lembaga Ikatan Indonesia Jerman, bahwa tekologi lokal yang dipakainya sudah kadarluarsa. Dan mesin yang dimiliki 1975 ini ternyata produksinya tahun 1800-an !

Langsung deh Domo datang ke Pameran Mesin di DusselDoff German tahun 1978.

Pak Domo sangat ingat detail mesin dan sistem mesin yang di luar negeri tadi, akhirnya dibawa deh ke Indonesia. Karena harga mesinnya 123 Juta, jadi nga mampu beli dulu, jadi dia modif mesin saja di pabriknya.

Akhirnya dia pulang ke Indonesia dan membuat mesin baru dengan modal sekitar 870.000 dan mampu mengolah kopi sebanyak 180 kg dalam 1 jam.

Tapi sayang sekali ternyata aroma kopi nya tidak keluar dengan mesin yang baru ini.

Akhirnya Bank lah solusinya untuk membantu beliau, yaitu Bank Pembangunan Indonesia menjadi sasaran untuk peminjaman dana tersebut untuk membeli mesin 123 Juta dari German, Tapi komentar orang pada saat itu adalah “Ghendeng Kamu, Domo. Kopi lokal saja pakai diproduksi dengan mesin Jerman”. Ngomong ngomong harga mesin lokal yang setara dengan 123 Juta Rupiah di German tadi adalah hanya 1,75 Juta.

Padahal kapasitas produksinya Domo adalah 300 kg saja sehari.

Jadi mesin bakalan tidak maksimal.

Keputusannya tetap membeli.

Karena Memin itu, maka kegiatan promosi makin ditingkatkan dan mulailah berton-ton stok kopi masuk dan akal nya betul.

Karena mesin canggih, semangat tempurnya juga makin kebentuk dan target baru juga keluar.

Domo ini memang hebat banget, selain pabrik kopi pertama yang pasang iklan, dia juga hebat banget, pakai Artis lho untuk Endorse (Kaya jaman sekarang aja, tapi nga ada Instagram jaman itu ya), namanya bintang Srimulat, yaitu Paimo, yang memerankan peran Wewe Gombel. Dia mengiklankan Kopi Kapal Api waktu itu di TVRI.

Iklan Kopi itu sudah terkenal dan Viral, tapi Departemen Perdangan menghentikannya, tidak boleh iklan lagi mengenai kopi.

Tapi ternyata ini menguntungkan, kenapa ? Ternyata kompetitor nga bisa iklan jadinya dan sudah terlambat karena kebijakan penyiaran pada saat itu.

Selain itu efek dari iklan tadi membuat kopi Kapal Api sangat mudah masuk ke pasar Bandung, Semarang, Palembang, Medan, Pontianak, Makassar hingga Denpasar.

Baru deh mulai tajir melintir nya ketika tahun 1985 mulai di Export ke Timur Tengah, menyusul Taiwan, Hongkong dan Malaysia

Bagaimana dengan kehidupan Pa Domo ?

Ternyata dia juga pernah berpikir extra ketika Sinar Sosro, Produsen Teh Botol Sosro, ingin masuk ke dalam bisnis kopi bubuk setelah sukses merajai bisnis teh.

Jujur pasti kawatir dong, ibaratnya ada Jawara baru dibidang Teh yang sudah punya market dan titik jualan diseluruh Indonesia mulai masuk ke Industrinya, (Lebih gampang titip Produk ke para mitra kelontongnya.)

Memang dahsyat Bapak Domo ini !

Lalu yang dilakukan adalah memburu penjualan merek yang baru, lalu diciptakanlah Merek ABC, yag kemudian berhasil menghalau keluarga Sosrodjojo yang mau nimbrung di bisnis ini.

Akhirnya 1992 Pak Domo mulai masuk ke tahapan industri kopi baru yaitu Kedai Kopi, yaitu Excelso untuk kalangan atas, gerainya di Plaza Indonesia dan Plaza Tunjungan 2 (Surabaya).

Kini ada 36 gerai yang ia miliki, mulai dari Indonesia sampai China dan Thaiwan.

Walaupun Excelso bersaing dengan Starbucks akan tetapi Beliau masih fokus di kopi untuk bangsa Indonesia dan tetap menghadirkan inovasi yang brilian.

Terima kasih Pak Domo, Terima kasih Kapal Api, Dan ABC serta ExcelSo.

Salam,,,

Yossa Setiadi S.Sos.,MM.,C.FT
www.PengusahaDahsyat.com


Spread the love

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.